Kamis, 05 Oktober 2017
Kamis, 18 Mei 2017
Rabu, 29 Juni 2016
Senin, 27 Juni 2016
CATATAN SUKENI TENTANG PAGERWESI
Hari ini adalah hari ke dua ngayah di Banjar Tangtu karena pada haribuda Kliwon wuku Sinta akan di selenggarakan Piodalan ring Pura Padang Sakti, Br. Tangtu, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.
Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang
melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering
diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa
Bali disebut magehang awak.
Hari Raya Pagerwesi jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon,
Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya
Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam
sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku
yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam
urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.
Sebagaimana telah disebutkan dalam
lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan
hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini
mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya
sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan
Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan
Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.
Saraswati yang jatuh pada hari terakhir
dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi
kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan
sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan
baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.
| Suasana Mejaitan di BR. Tangtu, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur |
Dengan demikian rangkaian hari-hari dari
Saraswati sampai Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:
1. Setelah Saraswati, besoknya pada hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu
di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata
air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang
sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan
mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan
Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan,
manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
2. Kemudian pada hari
Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang
Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup
untuk menunjang kehidupan manusia.
3. Selanjutnya pada hari
Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di
mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan
hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan
dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam
manifestasi sebagai Mahadewa.
4. Hari raya Pagerwesi pada hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan
suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu
menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.
Catatan tentang Pagerwesi
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari
yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati .
Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi
hidup kita di dunia ini. Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah
memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri,
menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus
menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat
mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
| Dayu Galuh, Nyonya Suarsa, Gek dan Kasihati dapat tugas buat sampian gantung-gantung angeng |
| Suryani, I Luh, Yasni dapat tugas buat sampian gantung-gantungan alit |
Minggu, 25 Januari 2015
Rabu, 14 Januari 2015
PUJA TRI SANDHYA KRAMANING SEMBAH
Oh ya tadi kebetulan ketemu sama anak-anak kelas delapan yang kagum menyaksikan kemampuan temannya yang fasih mengucapkan Kramaning sembah dan langsung menanyakan kepada saya semuanya tentang kramaning sembah tersebut........ha....ha .....
Catatan ini semata-mata untuk melengkapi keingin tahuan para pembelajar........Semoga pengetahuan sederhana ini merupakan awal kesadaranmu untuk memulai......astungkara.
Setelah serana persembahyangan dilengkapi sebaiknya diawali dengan Puja Tri Sandhya terlebih dahulu gih.......nak........
Asana
OM PRASADA STHITI
SARIRA SIWA SUCI NIRMALÀYA NAMAH SWÀHA
Pranayama
OM ANG NAMAH
OM UNG NAMA
OM MANG NAMAH
Karasodhana
OM SUDDHA MÀM
SWÀHA
OM ATI SUDDHA MÀM
SWÀHA
Puja Trisandhya :
Sikap tangan Amusti karana
Sikap tangan Amusti karana
OM BHÙR BHVAH
SVAH
TAT SAVITUR
VARENYAM
BHARGO DEVASYA
DHIMAHI
DHIYO YO NAH
PRACODAYÀT
OM NÀRÀYANA
EVEDAM SARVAM
YAD BHÙTAM YAC CA
BHAVYAM
NISKALANKO
NIRAÑJANO NIRVIKALPO
NIRÀKHYÀTAH SUDDO
DEVA EKO
NÀRÀYANO NA
DVITÃŒYO’STI KASCIT
OM TVAM SIVAH TVAM MAHÀDEVAH
ÃŒSVARAH
PARAMESVARAH
BRAHMÀ VISNUSCA
RUDRASCA
PURUSAH PARIKÃŒRTITAH
OM PÀPO’HAM
PÀPAKARMÀHAM
PÀPÀTMÀ
PÀPASAMBHAVAH
TRÀHI MÀM
PUNDARIKÀKSA
SABÀHYÀBHYÀNTARAH
SUCIH
OM KSAMASVA MÀM
MAHÀDEVA
SARVAPRÀNI
HITANKARA
MÀM MOCA SARVA
PÀPEBYAH
PÀLAYASVA SADÀ
SIVA
OM KSÀNTAVYAH
KÀYIKO DOSAH
KSÀNTAVYO VÀCIKO
MAMA
KSÀNTAVYO MÀNASO
DOSAH
TAT PRAMÀDÀT
KSAMASVA MÀM
OM SÀNTIH,
SÀNTIH, SÀNTIH, OM
Panca Sembah
Ambil Bunga
OM PUSPA DANTÀ YA
NAMAH SWÀHA
Tangan Kosong (Sembah Puyung).
OM ÀTMÀ TATTWÀTMÀ SÙDDHA MÀM SWÀHA
OM ÀTMÀ TATTWÀTMÀ SÙDDHA MÀM SWÀHA
Bunga Putih
OM ADITYASYÀ PARAM JYOTI RAKTA TEJO NAMO’STUTE SWETA PANKAJA MADHYASTHA BHÀSKARÀYA NAMO’STUTE
OM ADITYASYÀ PARAM JYOTI RAKTA TEJO NAMO’STUTE SWETA PANKAJA MADHYASTHA BHÀSKARÀYA NAMO’STUTE
Bunga Merah
OM NAMA DEWA
ADHISTHANÀYA SARWA WYAPI WAI SIWÀYA PADMÀSANA EKA PRATISTHÀYA ARDHANARESWARYAI
NAMO NAMAH
Kwangen
OM ANUGRAHA
MANOHARAM DEWA DATTÀ NUGRAHAKA ARCANAM SARWÀ PÙJANAM NAMAH SARWÀ NUGRAHAKA
DEWA-DEWI MAHÀSIDDHI YAJÑANYA NIRMALÀTMAKA LAKSMI SIDDHISÇA DIRGHÀYUH NIRWIGHNA
SUKHA WRDDISCA
Tangan Kosong
OM DEWA SUKSMA
PARAMÀ CINTYÀYA NAMA SWÀHA. OM SÀNTIH, SÀNTIH, SÀNTIH, OM
Nunas Tirta
Nunas Bija
![]() |
| Selamat belajar......Jangan putus asa terus belajar |
Jumat, 05 September 2014
Tri Parartha
Pengertian Tri Parartha
Kata
Tri Parartha berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata ” tri ” yang berarti
tiga dan ” parartha ” yang berarti kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan,
keagungan dan kesukaan. Jadi Tri Parartha berartg tiga perihal yang dapat
menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan,
keagungan, dan kesukaan hidup umat manusia.
Keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan kebutuhan hidup manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya umat manusia tidak akan dapat berbuat dalam hidup dan kehidupan ini.
Berdasarkan ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha.
Pembagian Tri Parartha
Keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan kebutuhan hidup manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya umat manusia tidak akan dapat berbuat dalam hidup dan kehidupan ini.
Berdasarkan ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha.
Pembagian Tri Parartha
Adapun
ajaran Tri Parartha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai
keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya, ajaran yang dimaksud
terdiri dari :
1. Asih : cinta kasih artinya sebagai manusia kita harus mempunyai rasa kasih sayang kepada semua, termasuk cinta kasih kita sesama manusia dan cinta kasih dengan lingkungan yang meliputi binatang dan tumbuhan.
1. Asih : cinta kasih artinya sebagai manusia kita harus mempunyai rasa kasih sayang kepada semua, termasuk cinta kasih kita sesama manusia dan cinta kasih dengan lingkungan yang meliputi binatang dan tumbuhan.
2. Punya / Punia : dermawan, tulus dan iklas . Artinya dalam kita memberikan sesuatu baik itu berupa jasa atau materi terutama kepada orang yang membutuhkan, berdasarkan ketulusan dan keiklasan tanpa mengharapkan imbalan.
3. Bhakti : hormat, sujud artinya dihadapan TYME / Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Allah / Gusti kita harus sujud karena hanya menciptakan semua ini dan yang akan memberi kita keselamatan. Dan kepada sesama manusia kita harus saling hormat menghormati, harga menghargai karena dihadapan-Nya kita semua sama, yang membedakan kita adalah amal perbuatan yang telah kita perbuat.
Tri Parartha adalah merupakan ajaran Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebagagiaan hidup cik didunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan perilaku umat manusia utama yang dapat menantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi ( moksa ).
Kamis, 04 September 2014
Tri Rna
.jpg)
Pengertian
Tri Rna
Tri Rna berasal dari kata “Tri” dan “Rna”.
Tri artinya tiga
Rna artinya utang.
Jadi, Tri Rna artinya, tiga utang yang
dimiliki oleh manusia dan harus dibayar dengan Yadnya.
Pembagian
Tri Rna
- Dewa Rna adalah hutang yang
dimiliki oleh manusia kehadapan Ida Sang Hyang Widhi atas jasa-Nya
menciptakan alam beserta isinya.
- Pitra Rna adalah hutang yang
kita miliki kehadapan para leluhur atau orang tua atas jasanya melahirkan,
memelihara, dan membesarkan kita di dunia.
- Rsi Rna adalah hutang yang dimiliki oleh manusia kehadapan para Rsi (orang suci) atas jasanya mengajarkan ilmu pengetahuan suci kepada kita.

Hubungan Tri
Rna dengan Panca Yadnya
a. Dewa Rna, yaitu hutang kehadapan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) di tebus
dengan melaksanakan dua jenis Yadnya, yaitu
- Dewa Yadnya adalah Yadnya yang
ditujukan kehadapan Tuhan beserta manifestasinya, yaitu para Dewa. Dewa
berasal dari akar kata “Div” (Sanskerta) yang artinya sinar, atau cahaya.
Dewa itu sendiri tidaklah sama dengan Tuhan melainkan hanyalah
ciptaan-Nya.
- Bhuta Yadnya “Bhu” berarti adalah Yadnya kepada Bhuta Kala. Bhuta berasal dari kata “energi” yang ada (unsur alam semesta) “kala” berarti “energi” kekuatan. Jadi, Bhuta Kalaberarti unsur-unsur alam dengan kekuatan yang dimiliki.
Jadi, yang termasuk bhuta adalah
unsur-unsur alam serial makhluk hidup ciptaan Tuhan, seperti tanah, air, api,
tumbuh-tumbuhan, binatang, dan gumatat-gumitit lainnya.
Kenyataannya unsur-unsur serta
ciptaan Tuhan itulah yang membantu kehidupan di dunia ini dan sebagai tanda
terima kasih, diselenggarakan pula Yadnya kepada-Nya. Dengan demikian, Bhuta
Yadnya adalah Yadnya kepada unsur-unsur alam serta semua ciptaan Tuhan. Dalam
hal ini termasuk: manusia, pitra, rsi, dan dewa, karena telah ditetapkan Yadnya
tersendiri untuk ciptaan-Nya itu.

Tetapi kalau diperhatikan lebih
lanjut, unsur-unsur alam serta ciptaan Tuhan itu tidak selalu menolong
kehidupan kehidupan manusia kadang-kadang menimbulkan bencana, misalnya air
bah, api mengamuk tanah bergoyang (gempa), dan sebagainya. Hal ini menunjukkan
bahwa kekuatan atau energy serta perbuatan dari ciptaan-Nya itu tidak tetap.
b. Pitra Rna adalah rasa berhutang kepada leluhur/orang tua sebagai wujud dari
penebusan Pitra Rnaini dapat dilakukan dengan melaksanakan dua
Yadnya, yaitu:
- Pitra Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan
kepada para leluhur atau orang tua sejak meninggal sampai mendapat tempat
yang layak di alam kedewataan. Pitra (pitara) berasal dari kata Pitriyang
artinya, leluhur. Melaksanakan Yadnya dalam hal ini bertujuan untuk
mengembalikan roh leluhur kepada asalnya, yaitu Sang Pencipta.
Yang mempunyai arti hampir sama
dengan pitara adalah Preta, yaitu roh leluhur yang masih dekat
dengan manusia, sehingga sering mengganggu manusia.
Pelaksanaan Pitra Yadnya di
Bali ada dua tahapan, yaitu Ngaben adalah upacara yang
bertujuan untuk mengembalikan jasad manusia kepada asalnya, yaitu Sang Panca
Maa Bhuta. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara membakar jenasahnya,
karena hal ini dianggap paling cepat akan sampai pada tujuannya. Tahap yang
kedua adalah upacara Atma Wedana yang juga disebut dengan ngerorasin.
Upacara ini hanya boleh dilaksanakan setela pengabenan:
selesai dan dapat dilakukan beberapa kali sesuai dengan tingkatannya.
2. Manusa Yadnya, yaitu Yadnya yang dilakukan kepada seseorang saja mulai dalam
kandungan sampai meninggal. Konsepsi agama Hindu tentang kehidupan adalah
percaya dengan adanya reinkarnasi, yaitu roh leluhur akan menitis kembali pada
orang-orang tertentu. Selanjutnya pula disadari pula bahwa tujuan menjelma
kembali adalah untuk memperbaharui kesalahannya (dosa) yang terdaulu. Yadnya
yang dilaksanakan adalah Yadnya yang bersifat jasmani dan rohani sehingga
betul-betul dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
c. Rsi
Rna adalah hutang yang kita miliki kehadapan para Rsi atau
orang suci. Hutang ini akan dapat ditebus dengan melaksanakan Rsi Yadnya. Rsi
adalah orang-orang suci yang berjasa dalam menerima wahyu Tuhan atau ajaran
suci Tuhan untuk disampaikan pada para pengikutnya. Dalam kehidupan beragama
dewasa ini, Rsi Yadnya tidaklah semata-mata ditujukan kepada para Rsi zaman
dulu saja, akan tetapi juga kepada Beliau yang berjasa dalam mengajarkan ilmu
pengetahuan suci kepada kita semua. Wujud nyata bagi kita melaksanakan Rsi
Yadnya adalah dengan jalan mengamalkan ajarannya dalam setiap tingkah laku di
dunia ini. Di samping itu, beryadnya kepada para Pedanda dan Pemangku yang
memimpin pelaksanaan suatu upacara adalah juga melaksanakan Yadnya. Semua
Yadnya yang dilaksanakan pada akhirnya yang menerima serta memberkati adalah
Ida Sang Hyang Widhi.
DEWATA NAWA SANGA
DEWATA NAWA SANGA ARTINYA: SEMBILAN PENGUASA MATA ANGIN
![]() |
| Senjata Dewata Nawa Sanga |
KETERANGAN
|
Dewa Wisnu
|
Dewa Sambhu
|
Dewa Iswara
|
Arah
|
Utara/Uttara
|
Timur Laut/Airsanya
|
Timur/Purwa
|
Pura
|
Batur
|
Besakih
|
Lempuyang
|
Aksara
|
Ang
|
Wang
|
Sang
|
Senjata
|
Cakra
|
Trisula
|
Bajra
|
Warna
|
Hitam
|
Biru/Abu-Abu
|
Putih
|
Urip
|
4
|
6
|
5
|
Panca Wara
|
Wage
|
Umanis
|
|
Sapta Wara
|
Soma
|
sukra
|
Redite
|
Sakti
|
Dewi Sri
|
Dewi Mahadewi
|
Dewi Uma
|
Wahana/Kendaraan
|
Garuda
|
Wilmana
|
Gajah Putih
|
Fungsi
|
Pemelihara
|
||
KETERANGAN
|
Dewa Maheswara
|
Dewa Brahma
|
Dewa Rudra
|
Arah
|
Tenggara/Ghnenya
|
Selatan/Daksina
|
Barat Daya/Nairiti
|
Pura
|
Goa Lawah
|
Andakasa
|
Uluwatu
|
Aksara
|
Nang
|
Bang
|
Mang
|
Senjata
|
Dupa
|
Gada
|
Moksala
|
Warna
|
Dadu/Merah Muda
|
Merah
|
Jingga
|
Urip
|
8
|
9
|
3
|
Panca Wara
|
-
|
Paing
|
-
|
Sapta Wara
|
Whraspati
|
Saniscara
|
Anggara
|
Sakti
|
Dewi Laksmi
|
Dewi Saraswati
|
Dewi Samadhi
|
Wahana/Kendaraan
|
Merak
|
Angsa
|
Kerbau Putih
|
Fungsi
|
Pencipta
|
||
KETERANGAN
|
Dewa Mahadewa
|
Dewa Sangkara
|
Dewa Siwa
|
Arah
|
Barat/Pascima
|
Barat Laut/Wayabhya
|
Tengah/Madya
|
Pura
|
Batukaru
|
Puncak Mangu
|
Besakih
|
Aksara
|
Tang
|
Sing
|
Ing/Yang
|
Senjata
|
Naga Pasa
|
Angkus
|
Padma
|
Warna
|
Kuning
|
Hijau/Welis
|
Panca Warna
|
Urip
|
7
|
1
|
8
|
Panca Wara
|
Pon
|
-
|
Kliwon
|
Sapta Wara
|
Buda
|
Sukra
|
-
|
Sakti
|
Dewi Sanci
|
Dewi Rodri
|
Dewi Durga
|
Wahana/Kendaraan
|
Naga
|
Singa
|
Lembu
|
Fungsi
|
Pelebur/Pralina
|
Langganan:
Postingan (Atom)






.jpg)
