Senin, 27 Juni 2016

CATATAN SUKENI TENTANG PAGERWESI






Hari ini adalah hari ke dua ngayah di Banjar Tangtu karena pada haribuda Kliwon wuku Sinta akan di selenggarakan Piodalan ring Pura Padang Sakti, Br. Tangtu, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.
Hari Raya Pagerwesi  jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.


Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.
Suasana Mejaitan di BR. Tangtu, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur
Dengan demikian rangkaian hari-hari dari Saraswati sampai Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:
1.    Setelah Saraswati, besoknya pada hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
2.    Kemudian pada hari Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.
3.    Selanjutnya pada hari Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.
4.    Hari raya Pagerwesi  pada hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.

Catatan tentang Pagerwesi
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.  Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Dayu Galuh, Nyonya Suarsa, Gek dan Kasihati dapat tugas buat sampian gantung-gantung angeng
Suryani, I Luh, Yasni dapat tugas buat sampian gantung-gantungan alit

Rabu, 14 Januari 2015

PUJA TRI SANDHYA KRAMANING SEMBAH


Oh ya tadi kebetulan ketemu sama anak-anak kelas delapan yang kagum menyaksikan kemampuan temannya yang fasih mengucapkan Kramaning sembah dan langsung menanyakan kepada saya semuanya tentang kramaning sembah tersebut........ha....ha ..... 
Catatan ini semata-mata untuk melengkapi keingin tahuan para pembelajar........
Semoga pengetahuan sederhana ini merupakan awal kesadaranmu untuk memulai......astungkara.

Setelah serana persembahyangan dilengkapi sebaiknya diawali dengan Puja Tri Sandhya terlebih dahulu gih.......nak........


Asana
OM PRASADA STHITI SARIRA SIWA SUCI NIRMALÀYA NAMAH SWÀHA
Pranayama
OM ANG NAMAH
OM UNG NAMA
OM MANG NAMAH
Karasodhana
OM SUDDHA MÀM SWÀHA
OM ATI SUDDHA MÀM SWÀHA

Puja Trisandhya :
Sikap tangan Amusti karana
OM BHÙR BHVAH SVAH
TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYÀT

OM NÀRÀYANA EVEDAM SARVAM
YAD BHÙTAM YAC CA BHAVYAM
NISKALANKO NIRAÑJANO NIRVIKALPO
NIRÀKHYÀTAH SUDDO DEVA EKO
NÀRÀYANO NA DVITÃŒYO’STI KASCIT

OM TVAM SIVAH TVAM MAHÀDEVAH
ÃŒSVARAH PARAMESVARAH
BRAHMÀ VISNUSCA RUDRASCA
PURUSAH PARIKÃŒRTITAH

OM PÀPO’HAM PÀPAKARMÀHAM
PÀPÀTMÀ PÀPASAMBHAVAH
TRÀHI MÀM PUNDARIKÀKSA
SABÀHYÀBHYÀNTARAH SUCIH

OM KSAMASVA MÀM MAHÀDEVA
SARVAPRÀNI HITANKARA
MÀM MOCA SARVA PÀPEBYAH
PÀLAYASVA SADÀ SIVA

OM KSÀNTAVYAH KÀYIKO DOSAH
KSÀNTAVYO VÀCIKO MAMA
KSÀNTAVYO MÀNASO DOSAH
TAT PRAMÀDÀT KSAMASVA MÀM


OM SÀNTIH, SÀNTIH, SÀNTIH, OM

Panca Sembah
Ambil Bunga
OM PUSPA DANTÀ YA NAMAH SWÀHA
Tangan Kosong (Sembah Puyung).
OM ÀTMÀ TATTWÀTMÀ SÙDDHA MÀM SWÀHA
Bunga Putih
OM ADITYASYÀ PARAM JYOTI RAKTA TEJO NAMO’STUTE  SWETA PANKAJA MADHYASTHA BHÀSKARÀYA NAMO’STUTE
Bunga Merah
OM NAMA DEWA ADHISTHANÀYA SARWA WYAPI WAI SIWÀYA PADMÀSANA EKA PRATISTHÀYA ARDHANARESWARYAI NAMO NAMAH
Kwangen
OM ANUGRAHA MANOHARAM DEWA DATTÀ NUGRAHAKA ARCANAM SARWÀ PÙJANAM NAMAH SARWÀ NUGRAHAKA DEWA-DEWI MAHÀSIDDHI YAJÑANYA NIRMALÀTMAKA LAKSMI SIDDHISÇA DIRGHÀYUH NIRWIGHNA SUKHA WRDDISCA
Tangan Kosong
OM DEWA SUKSMA PARAMÀ CINTYÀYA NAMA SWÀHA. OM SÀNTIH, SÀNTIH, SÀNTIH, OM
Nunas Tirta


Nunas Bija
Selamat belajar......Jangan putus asa terus belajar

Jumat, 05 September 2014

Tri Parartha


Pengertian Tri Parartha

Kata Tri Parartha berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata ” tri ” yang berarti tiga dan ” parartha ” yang berarti kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan, keagungan dan kesukaan. Jadi Tri Parartha berartg tiga perihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat manusia.
Keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan kebutuhan hidup manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya umat manusia tidak akan dapat berbuat dalam hidup dan kehidupan ini.
Berdasarkan ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha.

Pembagian Tri Parartha
Adapun ajaran Tri Parartha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya, ajaran yang dimaksud terdiri dari :
1. Asih : cinta kasih artinya sebagai manusia kita harus mempunyai rasa kasih sayang kepada semua, termasuk cinta kasih kita sesama manusia dan cinta kasih dengan lingkungan yang meliputi binatang dan tumbuhan.

2. Punya / Punia : dermawan, tulus dan iklas . Artinya dalam kita memberikan sesuatu baik itu berupa jasa atau materi terutama kepada orang yang membutuhkan, berdasarkan ketulusan dan keiklasan tanpa mengharapkan imbalan.

3. Bhakti : hormat, sujud artinya dihadapan TYME / Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Allah / Gusti kita harus sujud karena hanya menciptakan semua ini dan yang akan memberi kita keselamatan. Dan kepada sesama manusia kita harus saling hormat menghormati, harga menghargai karena dihadapan-Nya kita semua sama, yang membedakan kita adalah amal perbuatan yang telah kita perbuat.



Tri Parartha adalah merupakan ajaran Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebagagiaan hidup cik didunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan perilaku umat manusia utama yang dapat menantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi ( moksa ). 

Kamis, 04 September 2014

Tri Rna


Pengertian Tri Rna
Tri Rna berasal dari kata “Tri” dan “Rna”
Tri artinya tiga 
Rna artinya utang. 
Jadi, Tri Rna artinya, tiga utang yang dimiliki oleh manusia dan harus dibayar dengan Yadnya.

Pembagian Tri Rna
  1. Dewa Rna adalah hutang yang dimiliki oleh manusia kehadapan Ida Sang Hyang Widhi atas jasa-Nya menciptakan alam beserta isinya.
  2. Pitra Rna adalah hutang yang kita miliki kehadapan para leluhur atau orang tua atas jasanya melahirkan, memelihara, dan membesarkan kita di dunia.
  3. Rsi Rna adalah hutang yang dimiliki oleh manusia kehadapan para Rsi (orang suci) atas jasanya mengajarkan ilmu pengetahuan suci kepada kita.

    Hubungan Tri Rna dengan Panca Yadnya
a. Dewa Rna, yaitu hutang kehadapan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) di tebus dengan melaksanakan dua jenis Yadnya, yaitu
  1. Dewa Yadnya adalah Yadnya yang ditujukan kehadapan Tuhan beserta manifestasinya, yaitu para Dewa. Dewa berasal dari akar kata “Div” (Sanskerta) yang artinya sinar, atau cahaya. Dewa itu sendiri tidaklah sama dengan Tuhan melainkan hanyalah ciptaan-Nya.
  2. Bhuta Yadnya “Bhu” berarti adalah Yadnya kepada Bhuta Kala. Bhuta berasal dari kata “energi” yang ada (unsur alam semesta) “kala” berarti “energi” kekuatan. Jadi, Bhuta Kalaberarti unsur-unsur alam dengan kekuatan yang dimiliki.
Jadi, yang termasuk bhuta adalah unsur-unsur alam serial makhluk hidup ciptaan Tuhan, seperti tanah, air, api, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan gumatat-gumitit lainnya. 
Kenyataannya unsur-unsur serta ciptaan Tuhan itulah yang membantu kehidupan di dunia ini dan sebagai tanda terima kasih, diselenggarakan pula Yadnya kepada-Nya. Dengan demikian, Bhuta Yadnya adalah Yadnya kepada unsur-unsur alam serta semua ciptaan Tuhan. Dalam hal ini termasuk: manusia, pitra, rsi, dan dewa, karena telah ditetapkan Yadnya tersendiri untuk ciptaan-Nya itu.

Tetapi kalau diperhatikan lebih lanjut, unsur-unsur alam serta ciptaan Tuhan itu tidak selalu menolong kehidupan kehidupan manusia kadang-kadang menimbulkan bencana, misalnya air bah, api mengamuk tanah bergoyang (gempa), dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan atau energy serta perbuatan dari ciptaan-Nya itu tidak tetap.
b.   Pitra Rna adalah rasa berhutang kepada leluhur/orang tua sebagai wujud dari penebusan Pitra Rnaini dapat dilakukan dengan melaksanakan dua Yadnya, yaitu:
  1. Pitra Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan kepada para leluhur atau orang tua sejak meninggal sampai mendapat tempat yang layak di alam kedewataan. Pitra (pitara) berasal dari kata Pitriyang artinya, leluhur. Melaksanakan Yadnya dalam hal ini bertujuan untuk mengembalikan roh leluhur kepada asalnya, yaitu Sang Pencipta.
Yang mempunyai arti hampir sama dengan pitara adalah Preta, yaitu roh leluhur yang masih dekat dengan manusia, sehingga sering mengganggu manusia. 
Pelaksanaan Pitra Yadnya di Bali ada dua tahapan, yaitu Ngaben adalah upacara yang bertujuan untuk mengembalikan jasad manusia kepada asalnya, yaitu Sang Panca Maa Bhuta. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara membakar jenasahnya, karena hal ini dianggap paling cepat akan sampai pada tujuannya. Tahap yang kedua adalah upacara Atma Wedana yang juga disebut dengan ngerorasin
Upacara ini hanya boleh dilaksanakan setela pengabenan: selesai dan dapat dilakukan beberapa kali sesuai dengan tingkatannya.

 2. Manusa Yadnya, yaitu Yadnya yang dilakukan kepada seseorang saja mulai dalam kandungan sampai meninggal. Konsepsi agama Hindu tentang kehidupan adalah percaya dengan adanya reinkarnasi, yaitu roh leluhur akan menitis kembali pada orang-orang tertentu. Selanjutnya pula disadari pula bahwa tujuan menjelma kembali adalah untuk memperbaharui kesalahannya (dosa) yang terdaulu. Yadnya yang dilaksanakan adalah Yadnya yang bersifat jasmani dan rohani sehingga betul-betul dapat meningkatkan kualitas hidupnya.


 c.       Rsi Rna adalah hutang yang kita miliki kehadapan para Rsi atau orang suci. Hutang ini akan dapat ditebus dengan melaksanakan Rsi Yadnya. Rsi adalah orang-orang suci yang berjasa dalam menerima wahyu Tuhan atau ajaran suci Tuhan untuk disampaikan pada para pengikutnya. Dalam kehidupan beragama dewasa ini, Rsi Yadnya tidaklah semata-mata ditujukan kepada para Rsi zaman dulu saja, akan tetapi juga kepada Beliau yang berjasa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan suci kepada kita semua. Wujud nyata bagi kita melaksanakan Rsi Yadnya adalah dengan jalan mengamalkan ajarannya dalam setiap tingkah laku di dunia ini. Di samping itu, beryadnya kepada para Pedanda dan Pemangku yang memimpin pelaksanaan suatu upacara adalah juga melaksanakan Yadnya. Semua Yadnya yang dilaksanakan pada akhirnya yang menerima serta memberkati adalah Ida Sang Hyang Widhi.

DEWATA NAWA SANGA

DEWATA NAWA SANGA ARTINYA: SEMBILAN PENGUASA MATA ANGIN
Senjata Dewata Nawa Sanga


KETERANGAN
Dewa Wisnu
Dewa Sambhu
Dewa Iswara
Arah
Utara/Uttara
Timur Laut/Airsanya
Timur/Purwa
Pura
Batur
Besakih
Lempuyang
Aksara
Ang
Wang
Sang
Senjata
Cakra
Trisula
Bajra
Warna
Hitam
Biru/Abu-Abu
Putih
Urip
4
6
5
Panca Wara
Wage
Umanis
Sapta Wara
Soma
sukra
Redite
Sakti
Dewi Sri
Dewi Mahadewi
Dewi Uma
Wahana/Kendaraan
Garuda
Wilmana
Gajah Putih
Fungsi
Pemelihara
KETERANGAN
Dewa Maheswara
Dewa Brahma
Dewa Rudra
Arah
Tenggara/Ghnenya
Selatan/Daksina
Barat Daya/Nairiti
Pura
Goa Lawah
Andakasa
Uluwatu
Aksara
Nang
Bang
Mang
Senjata
Dupa
Gada
Moksala
Warna
Dadu/Merah Muda
Merah
Jingga
Urip
8
9
3
Panca Wara
-
Paing
-
Sapta Wara
Whraspati
Saniscara
Anggara
Sakti
Dewi Laksmi
Dewi Saraswati
Dewi Samadhi
Wahana/Kendaraan
Merak
Angsa
Kerbau Putih
Fungsi
Pencipta
KETERANGAN
Dewa Mahadewa
Dewa Sangkara
Dewa Siwa
Arah
Barat/Pascima
Barat Laut/Wayabhya
Tengah/Madya
Pura
Batukaru
Puncak Mangu
Besakih
Aksara
Tang
Sing
Ing/Yang
Senjata
Naga Pasa
Angkus
Padma
Warna
Kuning
Hijau/Welis
Panca Warna
Urip
7
1
8
Panca Wara
Pon
-
Kliwon
Sapta Wara
Buda
Sukra
-
Sakti
Dewi Sanci
Dewi Rodri
Dewi Durga
Wahana/Kendaraan
Naga
Singa
Lembu
Fungsi
Pelebur/Pralina