Kamis, 01 Mei 2014

Sekelumit Tentang Tes Akhir Semester 2 Agama Hindu Untuk Kelas VI

Senin, 14 April 2014
I. Pilihan Ganda
  1. Kemahakuasaan hyang Widhi yang mengatur dan menguasai Alam beserta isinya disebut Prabhu Sakti
  2. Sang Hyang Widhi yang tak dapat dipikirkan disebut dengan: Acintya
  3. Kelahiran, kehidupan dan kematian ditentukan oleh Ida Sang Hyang Widhi. Kelahiran, kehidupan dan kematian itu disebut: Tri Kona
  4. Sang hyang Widhi berkuasa atas penciptaan, pemeliharaan dan memperalina Alam beserta isinya. Kemahakuasaan ini disebut : Tri Murti
  5. Kemahakuasaan Hyang Widhi yang dapat mengetahui segala yang terjadi di Dunia ini disebut : Jnana Sakti
  6. Proses pemeliharaan dari Kemahakuasaan Dewa Tri Murti  disebut : Sthiti
  7. Wyapi-wyapaka artinya : Tuhan ada dimana-mana
  8. Sejarah perkembangan Agama hindu di indonesia dimulai sejak abad : ke 4
  9. Dengan ditemukan Yupa berisi tulisan di tepi Sungai Mahakam sekitar abad ke empat maka Indonesia  diketahui memasuki Jaman:  Pra Sejarah
  10. Pura bersejarah sebagai tempat dilaksanakan pertemuan tokoh-tokoh Agama yang melahirkan piagam Campuhan adalah Pura Gunung Lebah
  11. Dalam melakukan persembahyangan  yang diyakini sebagai saksi Agunga adalah Siwa Raditya
  12. Sang hyang Widhi sebagai penguasai Alam dalam upacara Yadnya digambarkan dengan cara membuat pengider-ider. dewa yang menguasai daerah tengah adalah Siwa
  13. Pemujaanterhadap sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya sebagai Ista Dewata dalam puja Tri sandhya terdapat pada bait ke 3
  14. Taat dan tekun melaksanakan Puja Tri Sandhya setiap hari adalah wujud pelaksanaan salah satu Panca Yadnya yaitu Dewa Yadnya
  15. Hari Raya Agama hindu yang perhitungannya menggunakan Sasih adalah Ciwa Ratri
  16. Memperbaiki dan membersihkan tempat suci adalah merupakan pengamalan Dewa Yadnya
  17. Melakukan Puja Tri Sandhya tiga kali sehari adalah pelaksanaan Yadnya secara Nitya Karma
  18. Menyumbang pada teman yang sedang membutuhkan adalah contoh pelaksanaan yadnya secara Naimitika Karma yaitu Manusa Yadnya
  19. Bila teman kita memerlukan pertolongan maka kita wajib menolongnya
  20. Kita merasa takut berbohong karena Sang hyang Widhi bersifat Maha Tahu
  21. Yadnya yang dilakukan sehabis memasak di Dapur disebut Yadnya Sesa
  22. Kata Brata dalam Dasa Yama Brata artinya pengendalian
  23. Berkata jujur artinya berkata sesuai dengan apa yang di lihat
  24. Satya laksana dapat di wujudkan dengan berbuat yang baik
  25. Anak kecil yang sedang sakit boleh dibohongi untuk  kebaikan
  26. Berani mempertahankan kebenaran adalah baik, terlalu berani pada setiap orang patut di hindari 
  27. Anak pemberani adalah anak yang berani membela kebenaran
  28. Ramah -  tamah, Lemah - lembut adalah arti dari Madurya
  29. Cara mengendalikan keinginan adalah dengan memenuhi keinginan sesuai dengan kebutuhan
  30. Mendengar seseorang sedang bicara tentang kejelekan teman sikapmu sebaiknya menegurnya

II Memberi Jawaban yang benar:
  1. Empat kekuatan atau kemahakuasaan Sang Hyang Widhi di sebut Cadhu Sakti
  2. Wyapi-Wyapaka arinya Tuhan ada di mana-mana
  3. Cerita Lubdhaka karya Empu Tanakang dikaitkan dengan perayaan Siwa Ratri
  4. Agama Hindu berkembang pesat di nusantara pada masa kerajaan Majapahit
  5. Kerajaan Hindu pertama di kalimantan Timur adalah Kutai
  6. Sebagai Bukti peninggalan Agama hindu di Bali dibuktikan dengan sebuah prasasti di Daerah Sanur adalah Prasasti Blanjong
  7. Rsi yang menata kehidupan beragama di Bali adalah Rsi/Empu Kuturan
  8. Proses peleburan Alam beserta isinya dalam Tri Kona di sebut:Pralina
  9. Turunnya pengetahuan Suci ke Dunia dirayakan sebagai Hari Raya Saraswati
  10. Kemenangan Dharma melawan Adharma di rayakan sebagai hari raya Galungan
  11. Yadnya yang dilakukan setiap hari disebut Nitya karma
  12. Yadnya wajib di lakukan oleh Semua Umat Hindu
  13. Rangkaian Hari raya setelah perayaan pergantian Tahun baru Saka adalah Ngembak Geni
  14. Tari Keagamaan yang berfungsi sebagai pemuput karya atau Yadnya di Bali adalah Topeng Sidhakarya
  15. Tidak pernah membunuh atau menyakiti Mahkluk lain adalah arti dari Ahimsa
  16. Memberikan sedekah kepada pengemis merupakan bentuk pelaksanaan upacara Manusa Yadnya
  17. Ajaran Upawasa pada perayaan Nyepi dengan melakukan: Catur Berata Penyepian
  18. Nyanyian Keagamaan yang mengandung nilai-nilai kebenaran di sebut: Dharma Gita
  19. Anak yang selalu hormat dan berbhakti kepada Orang Tua disebut Suputra
  20. Untuk menghindari orang berbuat tidak baik, seorang wnita sebaiknya berpakaian yang Sopan

III Pertanyaan dengan jawaban singkat

  1. Apakah Tujuan dari pelaksanaan Yadnya? jawab: untuk mengucapkan rasa terimakasih kepada Sang hyang Widhi    - Memohon supaya dijauhkan dari marabahaya    - Memohon pengampunan dari segala kekurngan, kesalahan dan Dosa yang dilakukan
  2. Apa arti Nitya Karma dan Naimitika Karma? Jawab:Nitya Karma adalah Yadnya yang dilakukan setiap hari. Naimitika Karma adalah Yadnya yang dilakukan pada hari-hari tertentu.
  3. Mengapa Tuhan di sebut Acintya? Jawab karena sang Hyang Widhi tidak mampu dpikirkan oleh manusia
  4. Mengapa kita tidak dapat membohongi Tuhan? Jawab: Karena Tuhan ada dimana-mana dan meresapi segala ruangan
  5. Sebutkan hari raya yang berdasarkan sasih! Jawab: Hari Raya Siwa Ratri dan Hari Raya Nyepi.
  6. Sebutkan alat-alat yang perlu disiapkan untuk sembahyang yaitu: Bunga, Kuangen, Dupa, Bija dan Tirta
  7. Kepada siapa perlu kita berbuat jujur? Jawab: kepada semua orang
  8. Sebutkan 3 contoh pelaksanaan Dama!Jawab: bersedekah kepada orang yang membutuhkan misalnya: orang yang tertimpa bencana, Orang sakit, Orang miskin/pengemis
  9. Sebutkan perguruan tinggi umat Hindu yang ada di Bali! Jawab:IHDN dan UNHI
  10. Apakah manfaat ajaran Dana bagi kehidupan? Jawab:Menyadari kesalahan dan kekeliruan sendiri, berusaha tidak mengulangi lagi, berusaha untuk memperbaiki.
Sekian mudah-mudahan ada manfaatnya b yang senang belajaragi pembelajar

Minggu, 13 April 2014

Belajar sebelum Ujian adalah sangat penting

Halooooo yang lagi menghadapi Ujian........

Apa kabar......... merasa blank? atau merasa tidak tahu apa-apa?

Oh itu adalah soal .

biasa bagi yang suka melalikan tugas Guru atau menganggap Guru tidak penting

lalu bagaimana kalau teman-teman yang betul-betul pintar mengatur waktu..... pada saat kelas berlangsung memperhatikan penjelasanGuru dan pada saat jam istirahat betul-betul istirahat.

ini kenyataan soalnya Ibu Sukeni juga pernah mengalami....... Dunia kayaknya seperti mau runtuh dan menimpa bertubi-tubi......ha....ha itu kalau pelajaran Matematika......aduh....itu terjadi di SD

ach habis itu ...... takut melalaikan Guru.....dan akhirnya harus belajar....belajar dan belajar seketika itu mengubah pola belajar karena diri sendiri.

Ada yang mau berubah?...... atur setrategi sendiri.......hanya diri sendiri yang bisa membatu diri ...... sendiri.....


wow....wow

Selamat belajar semoga  puas dengan hasil yang dicapai.....

Sabtu, 12 April 2014

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Agama Hindu kelas 10,11,12

KELAS: X

KOMPETENSI INTI & KOMPETENSI DASAR

KI  1
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KD 1
1.1 Menghayati ajaran Catur Asrama
1.2 Menghayati ajaran Catur Warna
1.3 Menghayati konsep Astika dan Nastika
1.4 Menghayati kitab Upaveda
1.5 Menghayati wewaran dan wuku dalam wariga
KI   2
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KD 2
2.1 Mengembangkan perilaku cinta damai, responsif dan proaktif melalui contoh ajaran Catur Asrama
2.2 Mengembangkan perilaku gotong royong dan kerjasama melalui konsep Catur Warna dalam sastra Veda

KI 3
3. Memahami , menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KD 3
3.1 Memahami hakekat Yajňa dalam kanda-kanda Ramayana
3.2 Menyebutkan nilai-nilai Yajňa dalam Ramayana
3.3 Menunjukkan aplikasi Upaveda dalam kehidupan
3.4 Menjelaskan padewasan (baik buruknya waktu)

KI 4
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KD 4
4.1 Mendemonstrasikan lagu kerohanian (betulkah kompetensi dasarnya cuma ini saja?

=====================================================================

KELAS XI

KOMPETENSI INTI  & KOMPETENSI DASAR

KI 1
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KD 1
1.1 Mengamalkan ajaran Catur Purusārtha
1.2 Mengamalkan ajaran Astangga Yoga
1.3 Menghayati ajaran Wiwaha/Perkawinan dalam agama Hindu
1.4 Mengamalkan ajaran Catur Marga sebagai jalan berhubungan dengan Hyang Widhi
1.5 Mengamalkan ajaran Wibuthi Marga
1.6 Menghayati isi kitab Manawa Dharma Sastra

KI 2
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KD 2
2.1 Mengembangkan perilaku jujur, disiplin, peduli dan ramah dengan menjalankan ajaran catur
      purusarta dalam kehidupan sehari-hari
2.2 Mengembangkan perilaku bertanggung-jawab, peduli, santun dan cinta damai, untuk  
      menciptakan keluarga dan rumah tangga yang Sukhinah

KI 3
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
    metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya,
    dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
    penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
    yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

KD3
3.1 Menjelaskan pelaksanaan Hatta Yoga dan Yoga Asana
3.2 Menjelaskan hakekat Yajňa dalam Astadasa Parwa Mahabharata
3.3 Menyebutkan nilai-nilai Yajňa dalam Mahabharata
3.4 Menyebutkan contoh-contoh perilaku Catur Marga
3.5 Menyebutkan sloka-sloka Bhagawad Gīta yang terkait dengan Bhakti Marga dan Karma Marga

KI 4
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KD4
4.1 Melafalkan beberapa sloka Bhagawadgita
4.2 Melantunkan sloka-sloka dalam Manawa Dharma Sastra

=====================================================================

KELAS: XII
KOMPETENSI INTI  & KOMPETENSI DASAR

KI 1
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KD 1
1.1 Menghayati konsep Yantra, Tantra dan Mantra
1.2 Menghayati ajaran Tri Mala dan Catur Pataka

KI 2
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KD 2
2.1 Mengamalkan ajaran Yantra, Mantra, Tantra dalam pelaksanaan ajaran Agama Hindu
2.2 Mengamalkan sikap disiplin dan bertanggung-jawab dalam melaksanakan Nawa Widha Bhakti

KI 3
3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

KD 3
3.1 Menjelaskan ajaran Yantra, Tantra dan Mantra dalam kehidupan
3.2 Menjelaskan ajaran Moksha dalam Susastra Veda
3.3 Menyebutkan sumber-sumber Hukum Hindu Susastra Veda
3.4 Menjelaskan kebudayan Prasejarah dan Sejarah di Indonesia
3.5 Menjelaskan toeri-teori masuknya agama Hindu dari India ke Indonesia
3.6 Mengetahui Tri Mala dan Catur Pataka sebagai pengetahuan untuk menghindari perilaku kurang baik dalam kehidupan

KI 4
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KD 4
4.1 Memperaktikan ajaran Nawa Widha Bhakti sebagai bentuk Sradha dan Bhakti umat Hindu
4.2 Mengamati penerapan Hukum Hindu sesuai dengan Desa, Kala dan Patra

Kamis, 20 Maret 2014

Hari Raya Nyepi


Makna dan Sejarah

Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau senyap. Semua masyarakat Bali akan berdiam diri di dalam rumah seharian sehingga semua jenis aktivitas di Bali ditiadakan, kecuali rumah sakit. Seperti yang telah disebutkan di atas, hari raya ini dilaksanakan dengan kesunyian dan refleksi diri. Oleh karena itu, pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan refleksi diri untuk memaknai apa yang telah dilakukan di tahun sebelumnya lalu mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik dan suci di tahun berikutnya.
Tradisi ini kira-kira dimulai sekitar tahun 78 Masehi sebagai perayaan pergantian Tahun Baru Saka. Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (Bulan ke 9 dalam Tahun Saka) dimana pada saat ini diyakini sebagai saat yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Selain itu, Tilem Kesanga juga dipercaya sebagai hari dimana para dewa akan datang ke dunia dengan membawa air kehidupan (tirta amerta) untuk kesejahteraan umat manusia.


Upacara Melasti

Sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan, umat Hindu di Bali akan melaksanakan upacara Melasti / Melis / Mekiyis yang bertujuan untuk menyucikan serta membersihkan Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Upacara ini biasanya dilakukan dalam rentang waktu seminggu sebelum Nyepi dimana seluruh warga Desa atau Banjar akan membawa perlengkapan persembahyang di Pura ke tempat-tempat yang mengalirkan air seperti laut, danau, atau sungai yang dianggap suci. Dengan memercikkan tira (air suci) dari sumber-sumber air tersebut, diharapkan dapat membersihkan dan menyucikan diri manusia dan alam semesta.

Upacara Bhuta Yadnya dan Pengerupukan

Sehari sebelum hari Raya Nyepi, dilaksanakanlah upacara Bhuta Yadnya yaitu upacara untuk mengusir roh-roh jahat atau Bhuta Kala. Sebelum sore hari, masyarakat Bali akan melaksanakan upacara Pecaruan yang bermakna untuk mengusir para roh jahat ini agar tidak menganggu alam semesta. Kemudian, pada sore hari hingga tengah malam, akan diadakan Pengerupukan dimana masyarakat melakukan parade Ogoh-Ogoh di seluruh penjuru Bali. Ogoh-Ogoh merupakan sebuah boneka / patung raksasa yang berbentuk Bhuta Kala. Ogoh-ogoh biasanya akan diarak keliling Desa oleh masyarakat setempat. Biasanya, pada malam ini lah daya tarik utama dari rangkaian upacara Nyepi ini karena Ogoh-Ogoh yang diarak biasanya sangat menarik dan seni. Ditambah lagi dengan diiringi oleh Gambelan Beleganjur serta para pemuda-pemudi yang membawa obor membuat suasana semakin semarak. Mungkin jika dihitung akan ada ribuan Ogoh-Ogoh yang diarak di seluruh Bali. Di akhir parade, Ogoh-ogoh lalu dibakar atau dihancurkan sebagai pertanda pelenyapan Bhuta Kala.

Nyepi

Nyepi dimulai pada pukul 6 pagi setelah malam Pengerupukan dan berlangsung hingga pukul 6 pagi keesokan harinya. Seluruh umat Hindu di Bali wajib melakukan Catur Brata Penyepian, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keempat pantangan tersebut adalah
Amati Geni
Tidak menyalakan api (termasuk listrik)
Amati Karya
Tidak melakukan pekerjaan namun meningkatkan penyucian rohani
Amati Lelungan
Tidak berpergian, namun melakukan refleksi diri, merenungkan segala perbuatan yang kita lakukan sebelumnya, hari ini, dan akan datang.
Amati Lelanguan
Tidak bersenang-senang (termasuk makan) melainkan memusatkan pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Wasa
Pada saat Nyepi ini, Bali akan menjadi sunyi. Tidak ada aktivitas, tidak ada kebisingan. Aktivitas yang ada mungkin hanya segelintir Pecalang (pengawas adat) yang berpatroli untuk mengawasi pelaksanaan Nyepi serta rumah sakit yang bagaimanapun juga harus tetap beroperasi. Pada malam hari, Bali akan gelap gulita karena tidak ada yang menyalakan listrik. Disinilah suasana damai dan tenang akan bisa dirasakan sepenuhnya. Bayangkan selama sehari penuh, Bali telah mengurangi angka polusi dan pencemaran lainnya.

Upacara Ngembak Geni

Upacara Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi. Pada keesokan harinya masyarakat Bali melaksanakan Dharma Shanty, yaitu saling berkunjung dan maaf-memaafkan sehingga umat Hindu dapat memulai tahun baru Saka dengan hal positif.

Rangkaian upacara Nyepi sejatinya telah dirancang oleh para leluhur kita untuk menyucikan seluruh isi jagat raya. Dimulai dengan melasti, dimana kita dapat menyucikan diri sendiri serta alam. Kemudian Bhuta Yadnya, dimana kita mengusir roh-roh jahat agar kedamaian alam semesta terpelihara. Lalu, Nyepi dimana seakan-akan alam diberikan waktu beristirahat sejenak. Bebas dari polusi, kegaduhan, serta eksploitasi selama sehari penuh. Kemudian diakhiri dengan Ngembak Geni yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar manusia sehingga tercipta kedamaian. Nyepi memang merupakan sebuah perayaan, namun perayaan yang penuh kedamaian. Ditujukan tidak hanya untuk manusia, melainkan alam semesta.

Rabu, 19 Maret 2014

Cadhu Sakti

Cadhu= Catuh= Catur yang artinya empat


Sakti artinya kekuatan, kekuasaan 

Jadi Cadhu Sakti artinya empat kekuatan atau kekuasaan Sang Hyang Widhi Wasa.

  1. Wibhu Sakti
  2. Prabhu Sakti
  3. Jnana Sakti
  4. Krya Sakti

WIBHU SAKTI adalah Sifat kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Maha Ada  serta berada dimana-mana atau Wyapiwyapaka: artinya meresapi segala yang ada.


PRABHU SAKTI adalah sifat Tuhan Maha Kuasa oleh sebab itu disebut Prabhu Sakti. Beliau berkuasa menciptakan, memelihara dan  memperalina. Beliau juga yang berkuasa menjalankan proses TRI KONA  yaitu:
  • Utpeti= penciptaan
  • Sthiti= pemeliharaan
  • Pralina= mengembalikan ke asalnya.
JNANA SAKTI adalah sifat Tuhan Maha Tahu.
itu artinya Sang Hyang Widhi mengetahui sessuatu pada masa:
Atita = lampau 
Wartamana = masa sekarang
Anagata = masa yang akan datang

Ada tiga  sifat kemahatahuan Sang Hyang Widhi


  1. Dura Darsana = Sang Hyang Widhi memiliki pengelihatan serba jauh(serba tembus)
  2. Dura Srawana = Sang Hyang Widhi memiliki pendengaran jauh (serba tembus)
  3. Dura Sarwajnana = Sang Hyang Widhi memiliki pengetahuan serba jauh( serba tembus)
KRYA SAKTI adalah sifat kemahakuasaan Mahakarya artinya Sang Hyang Widhi mampu membuat dan mengerjakan semua yang beliau kehendaki dengan sempurna.





Rabu, 12 Maret 2014

Watugunung Runtuh

Sumber:http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2011/11/watugunung.html

Watugunung (Watu Gunung) yang disebutkan dalam wukudengan urip 8 dan bilangan 30. Tersebutlah sebuah kisah watugunung sebagaimana yang disebutkan dalam lontar medangkemulan, sebagai salah satu acuan lontar dalam perhitungan kalender Bali.

Watugunung adalah seorang anak dari raja Kundadwipa yang bernama Dang Hyang Kulagiri dan ibunya bernama Dewi Sintakasih.

Pada mulanya diceritakan, setelah lama bersuami istri, lalu Sang Raja Dang Hyang Kulagiri berkata kepada kedua istrinya, Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia.

Sang Raja menyampaikan bahwa beliau segera akan pergi ke Gunung sumeru untuk menjalankan tapa, juga mengingatkan supaya permaisurinya baik-baik saja tinggal di kraton selama beliau pergi dan kedua istri beliau menyetujuinya
.

Tak diceritakan keadaan sang raja bertapa sudah cukup lama sekarang diceritakan Dewi Sintakasih sudah hamil tua. Dewi Sintakasih bercakap-cakap dengan Dewi Sanjiwartia, memperbincangkan sang raja belum datang. Akhirnya dalam percakapan itu diputuskan akan mencari suaminya ke gunung Sumeru (tempat sang raja bertapa).  

Tersebutlah kedua istri sang raja berangkat dari kraton, menuju tempat suaminya bertapa, sampailah perjalanan beliau pada lereng Gunung Sumeru, Dewi Sintakasih sakit perutnya makin lama makin sakit sebagai tanda akan  melahirkan.

Duduklah Dewi Sintakasih di atas batu yang datar dan lebar, melepaskan lelahnya sambil menahan rasa sakit perutnya tetapi sayang tidak tertahan saat itu juga Dewi Sintakasih melahirkan bayi laki-laki dan pecahlah batu tersebut karena tertimpa badan si bayi.  

Setelah hal tersebut terjadi gelisah dan berdukacitalah Dewi Sintakasih bersama Dewi Sanjiwartia. Saat itu pula turunlah Ida Hyang Padmayoni, bertanya kepada para putri itu, apa sebabnya mereka bersedih.  

Sang Dewi menghormat sambil berkata: “Ya, yang terhormat batara, hambamu ini ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak  hamba baru mulai hamil hingga sekarang. Sampai kelahiran putra hamba ini  belum juga beliau datang (kembali), itulah sebabnya hambamu ini bersedih hati”. 

Demikianlah kata kedua putri itu menghormat kehadapan Ida Hyang Padmayoni yang disebut sebagai Dewa Brahma.  Dewa Brahma setelah mendengar cerita kedua putri tersebut beliau sangat bahagia dan mendoakan supaya bayi itu panjang umur terkenal di dunia serta diberikan anugerah yang hebat tidak terbunuh oleh para dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari maupun pada siang hari, tidak mati dibawah maupun di atas, tidak terbunuh oleh senjata. Kecuali yang dapat membunuhnya adalah Dewa Wisnu. “Dan karena bayimu lahir di atas batu, aku anugrahi nama I Watugunung”.

Demikianlah sabda Dewa Brahma. Sang Dewi keduanya menghormat dan menghaturkan terima kasih. Kemudian gaiblah  Dewa Brahma kembali ke Kahyangan yang disebut Brahma Loka.  

Ketika lenyapnya Dewa Brahma, sang dewi keduanya ke kraton dengan memangku seorang putra. Tersebutlah bayi itu mengalami pertumbuhan yang amat cepat, sampai-sampai ibunya merasa kewalahan meladeni bayinya untuk memberi makan karena bayinya makan amat kuat. 

Heranlah kedua permaisuri  itu melihat putranya demikian hebatnya makan, kadang-kadang satu kali  masak atau satu periuk dihabiskan dalam sekali makan tanpa ada sisanya. 

Makin hari makin bertambahlah kesibukan ibunya untuk meladeni putranya yang luar biasa itu. Sampai-sampai merasa kewalahan untuk memberi makan dan selalu menuntut untuk makan. 

Tersebutlah pada suatu hari ibuny  sedang memasak di dapur, datanglah sang Watugunung mendekati ibunya  seraya minta nasi untuk dimakan. Ibunya berkata : ”Anakku bersabarlah  menunggu sementara ini nasinya belum masak”.

Demikian kata ibunya tetapi sang Watugunung tidak menghiraukan dan melahan mendesak supaya cepat-cepat memberikan nasi karena perutnya sudah lapar. Karena tidak tahan ketika itu pula sang Watugunung mengambil dengan sendiri tanpa bantuan ibunya, dan langsung nasi yang sedang dimasak itu disantapnya sampai habis tidak menghiraukan sudah matang atau belum, pendeknya dalam keadaan masih  panas sudah dihabiskan.  

Melihat perilaku putranya demikian sangat tidak  sopan, ibunya menjadi naik pitam dan mengambil sodo (siut) langsung  memukul putranya tepat di kepalanya sampai berlumuran darah, sang Watugunung menangis terisak-isak menahan luka yang dideritanya. 

Ketika sakit dari lukanya sudah agak reda Watugunung meninggalkan kraton karena saking krodha dengan marahnya menuju gunung Emalaya. 

Dalam perjalanan sang Watugunung berbuat seenaknya saja terual makanan, merampok terutama dalam hal  makanan, merampok makanan rakyat dan langsung dimakannya.

Penduduk di  sekitar lereng Gunung Emalaya merasa sangat heran melihat perilaku anak kecil itu yang serba berani, memaksa makanan dari penduduk. 

Hal ini sangat mengganggu kesejahteraan dan keamanan penduduk. Karena penduduk merasa kewalahan untuk mengahadapi tingkah polah anak itu, akhirnya  masalahnya dilaporkan kepada raja Giriswara.

Mendengar laporan itu sang raja merasa terkejut, dan naik darah seketika itu juga memerintahkan rakyatnya untuk  membunuh Watugunung.  

Setelah mendengar keputusan raja seluruh lapisan  kekuatan daerah itu menyerang sang Watugunung dengan merebutnya dan  memukul dengan bermacam-macam senjata, serangan datang dari segala sudut  yang kesemuanya tertuju ke badan sang Watugunung. Tetapi sayang seluruh serangan dan seluruh senjata penyerang tidak ada yang mempan.

Sang Watugunung sedikit pun tidak ada yang cidera. Sang Watugunung terus mengadakan aksinya dengan  mengobrak-abrik yang menyerangnya, menghancurkan kelompok penyerang yang hebat itu. Sehingga pasukan penduduk Emalaya lari terbirit-birit untuk menyelamatkan jiwanya dari kepungan Watugunung. Sang Raja sangat  marah mengetahui keadaan rakyatnya dihancurkan oleh Watugunung. 

Raja Girisrawa dengan hati yang membara turun ke medan perang dengan persenjataan yang lengkap untuk menghadapi sang Watugunung. Maka terjadilah perang tanding antara raja Giriswara dengan Watugunung, yang  sama-sama hebat dan sakti dalam peperangan itu. 

Perang tanding itu  berlangsung 7 (tujuh) hari. Dan pada akhirnya Raja Giriswara dapat  dikalahkan oleh sang Watugunung, sehingga raja Giriswara tunduk dan menghormat kepada sang Watugunung, mengenai kekalahan kerajaan Emalaya.

Tersebutlah sang Watugunung melanjutkan  serangan mengarah ke kerajaan Pasutranu yang rajanya bernama Prabu Kuladewa.karena serangan yang dilakukan Watugunung rakyat Kuladewa tidak tinggal diam, maka terjadilah pertempuran yang tidak kurang dahsyatnya dengan pertempuran di kerajaan Girisrawa. Rakyat Kuladewa kewalahan menghadapi serangan Watugunung yang hebat itu.

Akhirnya mereka lari tunggang langgang menyelamatkan jiwanya masing-masing. Namun akhirnya  sampai raja Kuladewa dapat dikalahkan, dan tunduk kepada Watugunung.   

Sang Watugunung melanjutkan serangannya kepada raja Talu, raja Mrabuana, raja Wariksaya, raja Pariwisaya, raja Julung, raja Sunsang dan yang  lainnya dengan mudah dapat ditundukkan.

Keseluruhan dari kerajaan yang dikalahkan berjumlah 27 kerajaan dan sampai semua Rajanya tunduk  kepada sang Watugunung. Tak ketinggalan juga rakyat beserta daerahnya  menjadi jajahan sang Watugunung.  Kesaktian ini diperolehnya pada saat lahirnya di kaki Gunung Sumeru dari Sang Hyang Padmayoni. Selama 150 tahun sang Watugunung memerintah daerah jajahannya.  

Dalam pemerintahannya itu beliau selalu menanyakan kepada raja-raja  taklukannya. Katanya : ”Hai para raja apakah ada raja yang hebat lagi  yang belum aku tundukkan?”. Para raja pun menjawab ” Daulat tuanku maha raja Girisila Emalaya, masih ada dua orang raja lagi yang belum tuanku tundukkan yaitu keduanya perempuan yang amat rupawan bertahta di negara Kundadwipa yang sangat diagungkan oleh rakyatnya dan dihormatinya. Jika tuanku dapat mengalahkannya kedua raja itu sangat patut untuk dijadikan permaisuri tuanku raja.

Demikianlah jawaban dari raja-raja yang  didengar keterangannya. Dan raja Girisila membenarkan.  Setelah  mendengar keterangan dari para raja itu, Maharaja Girisila memerintahkan kepada rakyatnya supaya mempersiapkan diri lengkap dengan  persenjataan guna menyerang kerajaan Kundadwipa.

Rencana ini didengar oleh kerajaan Kundadwipa maka dari itu rakyat Kundadwipa bersiap-siap untuk menyambut tamu yang tak diundang itu, tidak ketinggalan pula dengan persenjataan yang memadai.dan pada saat terjadinya pertempuran  yang sengit, seram sampai aliran darah dari para korban menganak sungai.

Sama-sama perwira sama-sama gagah berani tidak ada yang mau menyerah  pantang mundur. Korban dari kedua belah pihak makin banyak, korban jiwa korban harta dan yang lain-lainnya. Setelah pertempuran berlangsung yang menderita kekalahan adalah di pihak Kundadwipa. Maka kedua raja perempuan itu dikawini, karena lupa padahal itu adalah ibunya sendiri. 

Pada suatu saat setelah lama bersuami istri, sang Watugunung menyuruh  kedua permaisurinya untuk mencari kutu di kepala suaminya.

Sedang asyiknya pekerjaan memburu kutu itu dilakukan terjadilah gempa bumi, hujan dengan lebatnya disertai  angin dan disambung oleh petir yang mengguntur di langit.

Melihat  tanda-tanda itu para dewa sangat khawatir kejadian apakah yang bakal terjadi selanjutnya. Maka sekalian dewa menghadap Dewa Siwa. ”Haturnya  yang mulia batara Siwa apakah sebabnya terjadi gerakan-gerakan alam yang hebat seperti sekarang ini? Kemungkinan besar ada manusia yang berbuat  tidak sesuai dengan perikemanusiaan, tidak sesuai dengan tata susila, membenarkan yang tidak benar berlaku seperti binatang”.

Mendengarkan keterangan Dewa seperti itu, Dewa Siwa segera memanggil pendeta para dewa yaitu Bhagawan Narada (Rsi Priarana) supaya menyelidiki perbuatan manusia di dunia yang menyebabkan gerak alam yang dasyat ini.

Dang Hyang Narada segera turun untuk menyelidiki perbuatan manusia di dunia ini. Diketahuilah sang Watugunung sedang asyiknya berkutu dengan kedua istrinya.

Dengan segera Dang Hyang Narada kembali ke Siwa Loka (Swah Loka).  Melaporkan kejadian itu kepada Dewa Siwa. Kata beliau ”Yang mulia Dewa Siwa kami datang dari dunia melaporkan hasil dari penyelidikan yang kami  lakukan dengan sangat teliti ternyata memang memang ada manusia berbuat  yang tidak memenuhi tata susila kemanusiaan yaitu sang Watugunung  mengambil kedua ibunya dipakai istri (dipakai permasuri).

Hal yang demikianlah sangat tidak tepat dilakukan oleh manusia”. Mendengar laporan yang sangat meyakinkan itu  Sang Hyang Sahasra menjadi naik pitam dan menjatuhkan kutukan yang  ditujukan kepada sang Watugunung, sabda beliau : ”Hai kau sang Watugunung semoga engkau mati dibunuh Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) karena perbuatan yang sangat dursila itu yaitu mengambil ibu kandung dipakai sebagai permaisuri (memperistri ibu kandung), mengambil ”babu sodaran, mengambil tumin temen, kewaulan, babu dimisan, keponakan ring  nyama, rerama ringmisan, suta sodaran dan cucu”.

Semua yang tersebut di atas tidak boleh dijadikan istri. Jika ada manusia yang melakukan hal itu, patut dibuang ke laut, dan jiwanya supaya disiksa oleh rakyat batara Yama pada alam neraka (Bhur Loka). Apabila kelak menjelma agar dalam  kehidupannya itu selamanya menderita kesengsaraan”.
Demikian kutuk Sang Hyang Tri Purusa.  

Tersebutlah pada suatu hari sang Watugunung melakukan  pemburuan kutu yang dilakukan oleh kedua istrinya pada atau di atas kepala sang Watugunung yang besar itu.

Saat asyiknya mencari kutu sambil menggaruk-garuk kepada maha raja, ketika melipat-lipat rambut yang  kurang teratur itu kedua istrinya tercengang seketika, karena melihat bekas luka pada kepala yang sedang dielus-elusnya itu.

Maka teringatlah beliau dengan perbuatannya yang terdahulu yaitu memukul kepala putranya dengan sodo  (siut)sehingga menimbulkan luka di kepala putranya demikian pertimbangan di dalam hati, beliau tidak dapat berbuat apa-apa hanya diam tercengang, bahwa yang dipakai suami adalah putranya sendiri.  

Karena kedua pasang tangan istrinya menjadi agak lemas dan percakapan  kecil seketika menjadi hening. Dalam keheningan itu sang Watugunung bertanya kepada kedua permaisurinya: ”Hai adinda kenapa diam seketika  apa yang menyebabkan coba jelaskan supaya kakanda mengetahui hal itu”.

Pertanyaan itu lama tidak dijawab karena dadanya merasa sesak, akhirnya  menjawab : ”Ampun tuanku raja, adapun yang menyebabkan kami berdiam  karena karena kami ngerempini (ngidam)”.  

Sang Watugunung balik bertanya: ”Bagaimana adinda mengidam?”. Apa yang adinda idamkan  katakanlah! :
Kakanda yang terhormat, kami mengingini seorang pembantu yang tidak boleh lain daripada permaisuri Sang Hyang Wisnu”, demikianlah  permaisuri beliau menjawab. “Sangat sayang aku tidak mengetahui tempat Sang Hyang Wisnu, apakah dinda berdua mengetahuinya?” Oh tempat Sang Hyang Wisnu ada di bawah tanah”.

Ya kalau demikian kanda bersedia untuk mencarinya”. Sang Watugunung mulai memusatkan pikirannya (angrana sika) dengan mantap, sehingga dengan kekuatan batinnya tanah (bumi) ini pecah sampai pada lapis yang ketujuh. 

Sang Watugunung turun ke lapis tanah yang ketujuh sampai di sana disambut oleh Aribuana: Ah-ahih-ih apa maksud kedatanganmu?” mohon dijelaskan.

Sang Watugunung menjawab: “Aum Batara, adapun kedatanganku kemari, sebab berita yang kudengar di dunia, bahwa Batara adalah yang amat pengasih, apa saja yang diminta oleh manusia Batara izinkan”. Apa yang kau sebutkan itu memang benar” jawab Sang Hyang Wisnu.

Kalau memang benar hal tersebut sekarang permintaanku  adalah, jika engkau memang mencintai diriku, saya mohon permaisuri Hyang Wisnu bagaimana engkau izinkan bukan, katakanlah segera” Sang Hyang Wisnu segera menjawab” “Oh permintaanmu bukan perilaku manusia, permintaanmu tidak benar, tidak boleh meminta istriku cobalah minta yang  lainnya, tentu aku akan penuhi, kehebatan, senjata dan lain-lainnya”.   

“Jika demikian halnya Dewa Wisnu berbohong tidak menepati (tidak setia) kepada ucapan namanya, oh janganlah mengaku pada sadhu dharma (beriman dan saleh), kamu berikan atau tidak, kalau kamu berikan istrimu engkau  selamat, kalau tidak engkau izinkan berbahayalah engkau”.

Sang  Watugunung sangat marah.  “Aum, seperti apa yang kamu katakan, kalau aku  tidak izinkan, bagaimana kehendakmu cobalah bilang”. 

“Kalau Batara tidak izinkan, marilah segera kita berperang. Apakah kamu berani? katakan” Bertambah-tambah marahlah sang Watugunung, kata-katanya kasar.

Demikian pula Hyang Wisnu (sangat marah) segera menjawab: kalau benar seperti apa yang kamu katakan, aku betul-betul tidak memenuhi permintaan, karena apa yang kamu katakan hal itu tidak benar (tidak wajar)”.   

Ketika itu sang Watugunung sangat marah, demikian pula Sang Hyang Ari, maka terjadilah pertempuran yang  amat dasyat saling kejar mengejar, tusuk menusuk, pukul memukul dengan  garangnya.

Tujuh puluh yuga lamanya Sang Hyang Wisnu berperang melawan sang Watugunung, seribu kepalanya, dua ribu tangannya, dua ribu kakinya, matanya seperti bintang, amat menakutkan, rupanya seperti api  berkobar-kobar menyala. 

Sang Hyang Wisnu memurti (membesar wujudnya) beliau berupa kurma, berlidah cakra, bertaring tajam (suligi),  atau(berbelai) bajra yang amat utama, amat dasyat wujut kura-kura itu, besar badannya. 

Karena sang Watugunung tidak dapat dikalahkan oleh dewa, tidak terkalahkan oleh manusia, tak dikalahkan oleh bhuta, pisaca, tidak mati dibawah dan di atas, tidak mati oleh raksasa dan detya yaksa sura.

Setelah Sang Hyang Wisnu berwujud Badawang (Kurma), yang amat menakutkan, barulah beliau berperang.  Bagaikan gelombang laut yang murka, bergetarlah dunia ini, sehingga menyebabkan para dewa sibuk bertanya. Sang Hyang Siwa pun berkata kepada para dewa: ”Hai anakku semua, apakah kiranya yang terjadi sehingga  terjadi getaran - getaran yang hebat”. 

Coba katakan!
Bhagawan Narada  menjawab: ”Seperti apa yang batara katakan, hal itu terjadi karena ada  manusia yang congkak berbuat yang tidak wajar, tidak lain manusia itu  adalah si Watugunung, minta permaisuri dari Sang Hyang Wisnu, itulah yang menyebabkan terjadinya pertempuran, karena perbuatan si Watugunung amat berdosa.  

Mendengar laporan Hyang Narada demikian, lalu sang Watugunung dikutuk oleh Batara Sangkara. ”Jah tah smat, semoga si Watugunung mati, karena perilakunya yang amat berdosa mau memperistri dari salah seorang dewa, terus-menerus sampai pada penjelmaan kelak kemudian hari terbunuh oleh kebesaran Hyang Ari” demikianlah kutuk Sang Hyang Sangkara.

Tersebutlah lagi pertempuran Sang Hyang Ari berhadapan dengan si Watugunung, lalu keluarlah api yang amat hebat dari kurma perwujudan Hyang Wisnu, disemburlah si Watugunung, dibelit oleh bajra ditikam dengan cakra.

Akhirnya kalahlah sang Watugunung, tembus dadanya. Berkatalah sang Watugunung: ”Ih Hyang Wisnu sekarang  matilah aku dengan marahnya lalu mengatakan, aku tidak akan henti-hentinya bermusuhan dengan dirimu, sampai kepada penjelmaanku yang  ketujuh aku tidak akan melupakan hal ini. 

Hyang Wisnu berkata: ”benar katamu itu, tetapi dimanakah engkau akan menjelma? Katakanlah! Sang Watugunung menjawab aku akan menjelma di Lengka dengan nama Dasasia dan sebaliknya menanyakan kepada Hyang Wisnu di mana akan menjelma nanti?   

Hyang Aribuana menjawab (bersabda): ”Ih Watugunung, kalau demikian  katamu aku akan menjelma di Yodyapura; pada maharaja Dasaratha dan setiap kali aku lahir, selalu dapat membunuh dirimu!” akhirnya  meninggallah sang Watugunung.

Demikianlah diceritakan tentang sang Watugunung yang termuat dalam lontar Medangkamulan lembar 1a – 9b.

Tentang cerita lahirnya Wuku yang pernah termuat dalam majalah Bhagawanagara, disebut pula dipetik dari lontar Medan Kamulan dengan jalan cerita yang agak berbeda seperti di bawah  ini.  

Tersebutlah setelah istri sang Watugunung keduanya minta  permaisuri sang Hyang Wisnu sebagai pembatunya (babu), dengan segera sang Watugunung mengutus sang Warigadian ke Surga, membawa surat ke hadapan Hyang Ari. 

Setelah surat itu di bawa, Hyang Wisnu amat marah dan segera menantang sang Watugunung untuk bertempur.  

Hal itu disampaikan oleh sang Warigadian yang mengakibatkan sang Watugunung menjadi marah, segera memerintahkan memukul kentongan, rakyatnya semua berkumpul lengkap dengan senjata, segera menyerbu ke surga.

Terjadilah pertempuran  yang sangat dasyat bunuh membunuh antara kedua pihak, sampai Sang Hyang  Wisnu merasa tertekan karena serangan dari pasukan Watugunung. 

Diceritakan sang Watugunung sedang berada di tempat tidur disertai oleh  kedua orang permaisurinya.

Istri sang Watugunung menanyakan kejadian  peperangan yang telah terjadi dan juga menanyakan hal tersebut sang Watugunung berkata: ”Janganlah adikku berdua memberitahu kepada orang lain (awywa wera), kesaktianku ini tidak akan dapat dikalahkan oleh para  dewa, bhuta, danawa, kala, raksasa, manusia.  Namun ada yang dapat mengalahkan, jika ada orang sakti (nara wisesa) berwujud kurma (empas/badawang), berkuku yang kuat itulah yang dapat membunuh diriku”.

Tentang percakapan tersebut didengar oleh Bhagawan Lumanglang yang sedang  dalam keadaan berupa laba-laba. Bhagawan Lumanglang segera kembali ke surga, menghadap Dewa Wisnu seraya memberitahukan keadaan Watugunung.   

Besok paginya sekitar pukul 9 (dawuh tiga), Dewa Wisnu sudah berwujud  kurma, berkepala seribu, kuku tanganya sangat panjang dan sangat kuat,  segera berangkat untuk bertempur melawan sang Watugunung.

Saat itu adalah Redite Kliwon, peperangan berlangsung sangat sengitnya. Sang Watugunung dapat ditundukkan dan tergeletak di tanah (mrecapada). Itulah  sebabnya disebut ”Watugunung mati terbunuh oleh Batara Wisnu, hari  kematiannya ini dinamai ”Candung Watang”.

Besoknya adalah hari Anggara Pahingnya  mayatnya ditarik-tarik oleh Sang Lumanglang, sehingga hari itu disebut hari ”paid-paidan”.

Hari Budha Pon datanglah Bhagawan Budha, sang Watugunung dihidupkan kembali, tetapi hanya satu dauh, kemudian dibunuh  kembali oleh Batara Wisnu, hari itu disebut Budha Urip.  

Hari Wrhaspati datanglah Bhagawan Wrhaspati dengan rasa kasihan benar kepada sang Watugunung, sehingga dihidupkan kembali tetapi sebentar, kemudian  dibunuh kembali oleh Hyang Wisnu, hari itu disebut Panetan.

Pada hari sukra Kliwon, Hyang Siwa mengetahui bahwa sang Watugunung mati dan turunlah beliau untuk  menghidupkan kembali sang Watugunung, harinya disebut dengan Pangredanan.  

Saat itu datanglah Batara Wisnu hendak membunuhnya kembali  namun dapat dicegah oleh Bhatara Siwa, sabdanya: ”Hai anakku, janganlah hendaknya sang Watugunung dibunuh, biarkanlah untuk hari-hari  selanjutnya supaya diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau perbandingan.” Maka menjawablah sang Batara Wisnu, sabdanya: ”Yang Watugunung amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan  memperistri ibunya sendiri”.

Dikemudian hari tidak boleh orang yang  sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. Batara Wisnu pun  mengutuk sang Watugunung, sabdanya: ”Tiap-tiap enam bulan engkau runtuh (jatuh).

Jawaban sang Watugunung: ”Baiklah hamba menuruti sabda tuanku, hamba mohon apabila hamba jatuh di darat hendaknya turun hujan dan bila hamba jatuh di laut supaya hari panas terik, agar hamba tidak  kedinginan.

Permohonan sang Watugunung semua dikabulkan serta rakyat sang Watugunung serta pada Dewa yang menjadi korban dalam pertempuran  itu dihidupkan kembali.

Demikianlah diceritakan kisahnya dalam Mitologi Hindu Dharma, Watugunung menjadi terbawah dan terakhir dari pawukon, yang juga disebutkan Hari Raya Saraswati sebagai perayaan ilmu pengetahuan yang dirayakan pada wuku watugunung ini.